Ihsan : Keindahan Moral dan Moral yang Indah

PKSSumenep.org - Secara bahasa, ihsan berasal dari kata Ahsana: memberi kenikmatan atau kebaikan kepada orang lain.

Syekh Sulaiman Zuhdi ,Beliau menyampaikan bahwa penafsiran Ihsan yang benar dan tepat adalah seperti sabda Rasulullah SAW, "Apabila kamu menyembah (beribadat kepada Allah) seakan-akan engkau melihat- Nya, maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia Allah melihat kamu” (H.R.Bukhari). Beliau mengatakan pengertian Ihsan menurut Hadis ini adalah hadirnya Allah dalam hati sanubari pada waktu beribadat kepada-Nya, sehingga dengan demikian ibadat itu bersambung dan sampai kepada-Nya ketika itu juga. Kehadiran ini tidak mungkin tercapai kecuali terpenuhi dua syarat, yaitu : (1) bersihnya hati nurani kita dari dosa dan noda, dan (2) ikhlasnya ibadat kita hanya semata-mata kepada Allah.

Menurut Raghib al-Asfahani, Ihsan lebih tinggi derajatnya dari sekedar adil. Jika adil adalah memberi dan mengambil sesuai dengan porsi yang yang dibutuhkan, maka Ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 90. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil-pelajaran”(QS.An-Nahl:90).

Dalam ajaran Islam, ihsan adalah tingkatan tertinggi di atas Islam dan Iman. Ihsan merupakan esensi utama dari sebuah keimanan dan puncak tertinggi dalam hal kepatuhan dan kepasrahan seorang hamba kepada Tuhannya. Dalam ihsan tercakup segala perangai indah dan amal kebajikan.

Bentuk keindahan tertinggi di dunia ini adalah keindahan jiwa. Hal ini terkait dengan masalah ihsan, suatu istilah yang bermakna keindahan (beauty), kebaikan, sekaligus moral. Memiliki sifat ihsan berarti memiliki sifat kedermawanan dan cinta serta hidup dalam kedamaian jiwa, tempat tempat lokus Tuhan berada. Al-qur’an menyatakan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS.al-Tin: 4). Kata yang digunakan untuk arti “sebaik-baiknya” dalam ayat tersebut adalah ahsan, yang berasal dari akar kata yang sama dengan ihsan dan juga memiliki makna keindahan. Karenanya, ayat ini juga dapat kita terjemahkan, “ Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya,”

Menghiasi jiwa dengan keindahan atau ihsan melalui amal-amal spiritual berarti merealisasikan keindahan jiwa asal dan mengembalikan jiwa pada kondisi primordialnya, yakni “ bentuk yang seindah-indahnya”. Mencapai dan berbuat ihsan juga berarti memenuhi panggilan keindahan jiwa seseorang kepada sang Khaliq, yang dalam al-qur’an disebut sebagai “ Pencipta yang Paling Baik dan Paling Bagus ”. (QS. Al-Mukminun: 14), dan kepada , “Sang Pemilik Nama-nama Paling indah” (QS. Al-‘A’raf: 180). Bahkan ayat al-quran yang cukup terkenal, surah Ar-Rahman Ayat 60 ”Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”.

Tujuan hidup manusia adalah memperindah jiwa melalui kebaikan dan akhlak mulia yang dipersembahkan kepada Tuhan yang Maha Indah. Mereka yang memiliki ihsan berfikir melalui ihsan dan bertindak serta berbuat dengan ihsan (minal ihsan ilal ihsan). Pikiran mereka didasarkan pada kebenaran yang aura dan cahayanya adalah keindahan. Tindakan mereka selalu didasarkan pada ihsan, yakni kebaikan-kebaikan yang bersumber dari kekuatan absolut yaitu Tuhan, tanpa dipaksakan juga tanpa direkayasa. Murni keindahan yang bersumber dari kondisi hati nurani yang “diukir oleh Tuhan pada wajahnya”.

Memiliki ihsan berarti terbuka untuk menerima Rahman Rahimnya Allah, serta menjadi insan pengasih dan penyayang terhadap sesama. Ihsan adalah mencintai Khaliq dan mencintai makhluk-makhluk-Nya. Ihsan adalah kedamaian pada jiwa seseorang dalam kondisi keseimbangan dan harmonis dengan dunia. Merealisasikan ihsan, sebagaimana yang terekam dalam hadis Jibril yang masyhur di atas, berarti harus menyembah Tuhan seolah-olah kita melihat-Nya, jika kita tidak melihat-Nya, maka kita harus yakin bahwa Dia melihat kita. Karen itu, pada akhirnya ihsan bermakna hidup dalam keintiman dengan Tuhan, kondisi ketika aroma dan nuansa kasih sayang , cinta kedamaian, dan keindahan Tuhan benar-benar dirasakan. Orang yang telah merealisasikan ihsan sesungguhnya ia amat sadar akan urgensi kasih sayang dan cinta, kedamaian dan keindahan. Sehingga ia tidak lagi menjadi manusia penebar kebencian dan fitnah di antara sesama. Akhirnya kita harus sadar bahwa kita dicipta karena cinta, lahir untuk cinta dan kembali dalam nuansa cinta. Irhamu man fil ardhi yarhamukum man fissamaa’.

Penulis : Muzayyin Syura
Share on Google Plus