Dari Masjid Hingga Ranah Politik : Menghadirkan Masjid dalam Perpolitikan Kita



PKSSumenep.org - Hiruk pikuk pemilukada khususnya di tanah madura semakin kita rasakan. Para BALON (Bakal Calon) sama-sama mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa mereka mampu memberikan perubahan dan perbaikan-perbaikan dalam segala sektor, bahkan dalam waktu yang sangat singkat sekalipun. Janji-janji yang dibalut dengan kemampuan retorika yang indah akan semakin menambah daya tarik masyarakat untuk memberikan dukungan. Dapat kita simpulkan bahwa cara pandang masyarakat dalam menentukan pilihan masih terbatas pada kemampuan para calon pemimpinnya dalam beretorika tidak lagi pada kemampuan leadership yang mumpuni.

Islam dalam memandang politik dan cara berpolitik serta bagi para pemegang kekuasaan dan sebagai pemimpin di tengah-tengah masyarakat sangatlah sederhana dan simpel. Intinya adalah tanggung jawab, dalam bahasa nubuwwahnya amanah. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW. “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya”.

Akhir-akhir ini, banyak orang yang menilai bahwa politik dan spiritual (baca: agama) adalah dua hal yang berbeda dan saling terpisah satu sama lain. Keduanya tidak memiliki keterhubungan satu sama lain. Banyak orang yang memandang bahwa keduanya memiliki kontribusi dan peran yang berbeda dalam kehidupan manusia.

Penilaian ini banyak dikecam oleh mereka yang mengaku beragama. Kecaman umumnya datang dari organisasi dan partai berlabel Islam. Bahkan, mereka yang berpendapat bahwa ranah politik dan spiritual harus dipisah, disebut-sebut sebagai sekuler, bahkan anti agama. Bila melihat sejarah, khususnya sejarah perkembangan Islam di dunia, agama dan sektor kehidupan adalah sesuatu yang padu. Pada zaman Rasulullah, masjid merupakan pusat dari aktivitas sosial masyarakat. Mulai dari berbisnis, belajar-mengajar, bermusyawarah, pusat pemerintahan, hingga berlatih dan menyusun strategi perang, hampir semua dilakukan di masjid.

Sejalan dengan waktu, peran masjid sebagai pusat peradaban masyarakat, lambat laun memudar. Semua urusan keduniawian berangsur-angsur bergeser ke istana. Pada saat itu, peran masjid hanya untuk ibadah semata.

Hal senada juga terjadi di Indonesia, khususnya pada era kerajaan Islam Jawa. Lokasi masjid terpisah dari istana. Istana dilambangkan sebagai pusat peradaban manusia. Sedangkan masjid, adalah bagian dari unsur ketuhanan. Sehingga masjid hanya memiliki fungsi sekunder, yaitu: alat untuk melegitimasi kekuasaan.

Parahnya, kondisi ini tidak berubah hingga saat ini. Tak heran bila masyarakat kebanyakan juga melihat aspek spiritual merupakan sosok yang terpisah dengan aspek-aspek kehidupan. Masjid dibangun hanya untuk shalat dan mengaji semata. Di luar aktivitas tersebut, masyarakat lebih cenderung memilih tempat selain masjid. Nah inilah yang juga penulis rasakan saat ini, para pemimpin kita sudah mulai mengenyampingkan dasar-dasar masjid (baca; agama) pada kehidupan mereka. Perlu kita cermati bersama, mengapa Rasulullah dan para sahabat, mereka melakukan kegiatan kepemerintahan maupun kemanusiaan di masjid? Hal ini dalam rangka penguatan unsur ruhani (baca; spiritual) dalam kehidpan mereka, sehingga apapun jabatan dan tanggung jawab yang mereka emban tetap berdiri tegak di atas kekuatan iman dan akhlak islam.

Politik adalah amanah kemanusiaan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh tanggung jawab. Para pemegang kekuasaan pada saatnya nanti akan digiring menuju pengadilan Tuhan, pengadilan tanpa negoisasi, pengadilan yang bebas dari kolusi massal yang mudah kita kebiri. Kita saat ini dihadapkan pada situasi politik yang timpang, kebijakan-kebijakan yang kurang bijak, penerapan hukum yang memihak, sehingga masyarakat kehilangan sikap kemanusiannya.

Tulisan singkat ini merupakan seruan kemanusiaan, khususnya bagi saudara-saudara saya yang akan maju dalam kancah politik agar pertama, meluruskan niat, berpolitik ataupun menjadi pemimpin tidak lain kecuali dalam rangka ibadah kepada Allah. Kedua,untuk tidak melupakan masjid-masjid dimana mereka setiap saat melakukan komunikasi dan hubungan dialogis dengan Tuhan, masjid sebagai wadah koreksi dan kontrol terhadap kerja kemanusiaan kita. Ketiga, tradisi tinggal di rumah dinas tidak selalu baik dan menjamin kelancaran dan suksesnya kinerja kita. Bahkan tinggal di rumah sendiri bersama keluarga dan masyarakat akan lebih bermakna daripada harus di rumah dinas mewah. Bagi para pemimpin dialog yang rutin dengan masyarakat akan sangat membantu bagi tercapainya cita-cita politik luhur. Cita-cita bersama dalam memujudkan masyarakat sejahtera. Semoga....!!!


Penulis : Muzayyin Abdullah SY
Share on Google Plus