Perbedaan Jalur Untuk Satu Tujuan, Bukan Masalah Besar

Foto : Zainurrasi Ilyas, Sekretaris Bidang HUMAS DPD PKS Sumenep

PKSSumenep.org - Berakar dan bersusurgalur pada keluarga pesantren, tidak membuat Kiai Zainurrasi Ilyas, salah satu tokoh muda di Desa Larangan Ganding, harus berkiprah seperti para pendahulunya. Baginya, pengabdian pada masyarakat tak hanya harus dilakukan di dalam area tembok pesantren. Justru menurut ayah 3 anak ini, pengabdian terbesar harus dilakukan di luar tembok.

"Secara pribadi saya katakan itu memang pilihan saya. Jadi, saya lebih suka yang dinamis. Meski memang kebanyakan di keluarga saya yang memilih justru menjauh dari hiruk-pikuk. Apalagi memang secara nasab berasal dari keluarga pesantren salaf,"katanya pada Media Center, Rabu (17/02).

Ya, secara genealogi, Zainur masih terhitung 3 generasi dari Kiai Haji Imam bin Mahmud, pendiri Pondok Pesantren Al-Karawi, Karay, Ganding. Salah satu pesantren kuna dan kesohor di Kabupaten Sumenep.

Ibu Zainurrasi, Nyai Hajjah Halilah adalah putri dari Kiai Usmuny dan Nyai Izzah binti Kiai Imam Karay. Nyai Izzah ini bersaudara dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan (Karay), Kiai Haji Utsman (Bilapora, Lenteng), Kiai Haji Abdulwali (Slopeng), Kiai Haji Asnawi (Jambu), dan lainnya.

Sementara ayah Zainur, Kiai Ilyas adalah keturunan Kiai Haji Abdul Mukti (Bangselok, Sumenep), yang masih memiliki ikatan darah dengan Kiai Haji Zainal Arifin (Tarate, Sumenep). Makam Kiai Abdul Mukti bersebelahan dengan Kiai Zainal Arifin, alias satu kompleks juga dengan Kiai Haji Usymuni Terate, dan Kiai Raden Wongsoleksono (Pandian, Sumenep).

Hal itulah yang kemudian membawa suami dari Diinul Merilla Syuhada ini terjun ke lembah politik praktis. Di dunia politik tersebut, Zainurrasi mengaku lebih bisa melebarkan sayap Islam. Meski awalnya, proses yang dilalui Zainurrasi tidaklah mudah. Apalagi partai yang dipilihnya merupakan partai kerap mengundang pro kontra di kalangan umat Islam sendiri, meski bendera yang diusung adalah bendera Islam, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Ya, selama ini memang partai yang menjadi sarana perjuangan saya memang kerap diklaim Wahabi. Tapi itu tidak benar. Secara tegas, saya katakan saya kader NU, dibesarkan dalam keluarga NU, dan berasal dari keluarga yang turut ikut memperjuangkan NU,"kata Kiai Zainurrasi.

Menurut Zainurrasi, meski satu tujuan, jalan yang ditempuh setiap orang kadang tidak sama. Seperti halnya orang Sumenep yang bermaksud melakukan perjalanan menuju kota Surabaya, ada yang lewat jalur utara, ada juga yang melewati jalur selatan.

"Jadi, masak hanya perbedaan jalur saja, namun tujuannya sama harus dipermasalahkan. Saya kira nanti dikembalikan pada personalnya, sehingga selama ikut berpartisipasi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat seperti untuk kepentingan lembaga Islam dan pesantren-pesantren, dan juga ikut berperan aktif dalam mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumenep khususnya di kecamatan Ganding ini misalnya, ya sah-sah saja naik kendaraan atau parpol apapun,"tutupnya. (Farhan, Esha)

Disalin dari www.sumenep.go.id
Share on Google Plus