Berdoa, Antara Malu dan Tamak



Bismillah...

1. Esensi do'a adalah pendekataan diri seorang hamba kepada Rab-nya dengan menyeru asma-Nya yang suci seraya memohon dan meminta kepada-Nya untuk kebaikan agamanya, dunianya dan akhiratnya.
Sebutan do'a dalam Al-Qur'an jadi satu dengan ibadah karena do'a adalah otaknya ibadah, tiga surat utama dalam Al-Qur'an, Alfatihah, Al-Baqarah dan Ali Imran seluruhnya ditutup dengan do'a-do'a.

2. Do'a adalah bukti ketergantungan diri kepada Allah. Rasulullah memerintahkan agar kita memohon kepada Allah sekalipun hanya terkait dengan tali sandal yang putus. Demikianlah seharusnya sikap seorang hamba, senantiasa membutuhkan Tuhan-nya karena tanpa Allah pasti kita tidak akan pernah berdaya.

3. Ketika seorang mukmin menjadikan do'a sebagai pilihan utamanya acap kali dipandang sebelah mata, dan dianggapnya sebagai pemalas. Padahal Nabi menyebutkan do'a kepada Allah itu dalam kerangka nilai lebih yang dimiliki seorang mukmin yang kuat.
Jadi, do'a adalah senjata orang beriman yang kuat.

4. Allah SWT yang kita panggil dan kita tadahkan segala permintaan kepadanya adalah dzat yang Maha mendengar, dekat lagi dapat menyambut permohonan kita. Dia bukan dzat yang tuli yang tidak mendengar seruan kita, dan bukan pula dzat yang jauh, sehingga kita harus mencarinya, serta berteriak dalam memanggil-Nya, akan tetapi kapan dan dimana saja kita membutuhkan-Nya kita akan mendapati-Nya disisi kita dan Allah juga bukan dzat yang tidak menyambut do'a kita. Adapun jika yang diseru oleh manusia selain Allah pasti tidak akan dapat menyambut panggilannya sampai hari kiamat. Bahkan ia tidak tahu apa yang diminta dari-Nya. (QS. Al-Ahqaaf: 05)

5. Selain sifat Allah SWT, yang Maha mendengar, dekat lagi dapat menyambut permohonan, Allah adalah dzat yang Maha pemurah dan penyayang, jangankan yang diminta, yang tidak diminta saja, diberi oleh Allah. Karena sangat sayang-Nya Allah kepada kita hamba-nya. Dan dia Allah adalah dzat yang Maha pemberi (Al-Wahhab). Allah memberi tanpa batas (yarzuqu man yasya' bighairi hisaab).

6. Dari sifat Allah yang Maha pemurah (Al-Karim), sejatinya kita malu untuk meminta lagi karena pemberian-Nya sudah sangat banyak.
(QS. Ibrahim: 34). Namun dari sifat-Nya Al-Wahhab, menjadikan kita "tamak" untuk terus meminta kepadanya dengan permintaan sebesar apapun dan sebanyak apapun. Subhanallah!

Terimakasih ya Allah, Ampuni diri yang tidak tahu budi ini!!!

Intisari Tatsqif Keluarga
Sumenep, 16 Juni 2016
Share on Google Plus