Berbekal Taqwa, Raih Syurga



Bismillah...

1. Pada tahun ke 2 Hijriyah ada beberapa kewajiban yang diterima oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi wa'ala Alihi wasallam, antara lain zakat fitrah dan zakat maal yang keduanya benar-benar dirasakan langsung manfaatnya oleh sahabat-sahabat Nabi wabil khusus sahabat muhajirin yang meninggalkan kota mekkah ke madinah tanpa membawa harta. Selain dua kewajiban di atas Nabi menerima kewajiban puasa tepatnya pada bulan syakban, satu bulan sebelum Ramadhan datang.

2. Satu bulan berikutnya kaum muslimin memulai kewajiban berpuasa ramadhan yang pertama kali dan pada waktu yang bersamaan mereka dihadapkan dengan perang yang sangat spektakuler dalam sejarah peradaban islam yaitu perang badar kubra. Dan dengan pertolongan Allah mereka meraih kemenangan yang gemilang.

3. Seusai Ramadhan mereka merayakan hari raya yang pertama dengan nuansa yang sangat istimewa karena mereka merayakan dua kemenangan sekaligus yaitu kemenanangan terhadap hawa nafsu dan kemenangan terhadap musuh dengan mengumandankan Takbir, Tahmid "Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu," dan dengan melaksanakan shalat 'Idul Fitri serta zakat fitrah yang kesemuanya akan menambah kesucian hati dan sanubari.

4. Dalam kewajiban puasa Ramadhan Allah menetapkan suatu tujuan besar yaitu "la'allakum tattaquun" agar kalian bertaqwa. Sedang dalam surat Al-Anfal sebagai sebuah surat yang secara khusus berbicara tentang perang badar, Allah menjelaskan di dalamnya bahwa ada dua hal besar yang akan diraih orang-orang yang beriman jika mereka bertaqwa kepada Allah. Yang pertama Furqaan dan yang kedua peleburan dosa dan ampunan. (QS. Al-Anfaal: 29)

5. Furqan mengandung banyak isyarah (petunjuk) dan bisyarah (kabar gembira).Yang pertama, Jika dikaitkan dengan perang badar yang disebut sebagai yaumul furqaan maka ia mempunyai makna kemenangan Al-Haq atas Al-Bathil. Kedua yaitu kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil dan yang ketiga adalah cahaya yang memenuhi hati orang yang bertaqwa sehingga dengan cahaya tersebut dapat melihat yang haq dan mengikutinya, melihat yang bathil dan menjauhinya.

6. Salah satu karakteristik islam adalah bersifat furqaan. Dalam Islam tidak ada pencampur adukan antara yang haq dan yang bathil. Kitab Al-Qur'an yang Allah turunkan berfungsi sebagai furqaan dengan sifatnya yang mubiin (jelas dan nayata), Aqidah isalamiyah adalah Aqidah furqaaniyah sehingga hasilnya qad tabayyana ar-rusydu minal ghayyi (sungguh jelas dan nyata antara petunjuk dan kesesatan). Seorang muslim hendaknya menjadi sosok yang furqaani sebagaimana umar yang disifati alfaaruuq. Utamanya di zaman yang penuh fitnah ini.

7. Furqan bagi hati laksana mata bagi kepala. Keduanya dibutuhkan untuk bisa melihat. Namun butanya mata hati sangat berbahaya. Jauh lebih bahaya daripada butanya mata kepala. Orang yang hatinya buta dijamin sesat sekalipun mata kepalanya dapat melihat. (QS. Al-An'am: 109 )

8. Ghufran (ampunan) yang merupakan buah ketqwaan, yang kedua sesudah furqaan adalah Al-Fadhlul 'adzim (karunia yang agung) bagi orang yang beriman. Karena ia merupakan tiket masuk syurga. Namun untuk bisa mendapatkan tiket yang satu ini membutuhkan bekal furqaan yang kuat.



Intisari Tatsqif Keluarga
Sumenep, 09 Agustus 2016
Oleh: Ust. Muhammad Mudhar
Share on Google Plus