Berkah itu Ketenangan Hati


Tema dan pembahasan yang menarik, mengulik sesuatu yang belum dikulik, saya pun menulis ringkasannya, karena menurut saya sayang untuk dilewatkan dan hanya berhenti di telinga saya, dan memilih menebarkan ilmu daripada menebar aib 😄.

Kemarin mengikuti pengajian rutin bulanan PERSIS (Persatuan Islam) Kalimantan Timur tepatnya di samarinda, materi kali ini terkait tafsir tematik tentang berkah. Di isi oleh Ustadz H. Al Hafid Ibnu Qayyim, M.Th.I., Beliau menyampaikan materi dengan begitu ringan dan mudah dipahami para jama'ah. Saya uraikan sebagai berikut.

Beliau menjelaskan, bahwa kata berkah itu asalnya terdiri dari huruf bā', rā' dan kāf, yang menurut Ibn Faris dalam Mu'jam Maqāyīs al-Lugah berarti tsabātu al-syai' (tetapnya sesuatu). Al-Ashfahani mendefinisikan berkah dengan al-barakat tsubūt al-khair al-ilahi fi al-syai' (tetapnya kebaikan yang bersifat ilahiah pada sesuatu). Dapat juga dimaknai bahwa berkah itu merupakan suatu kebaikan ilahiah yang meningkat secara stabil hingga tercipta suatu stabilitas berupa ketenangan dan ketentraman dalam hidup kita. 

Berkah itu adalah ketenangan hati (Kata Beliau) Layaknya seseorang yang lapar ketika telah kenyang, perasaannya pun akan tenang. Selama ini yang kita fahami berkah letaknya hanya mendapat rizki berupa harta, pasangan hidup yang cantik dan pintar mengatur keuangan rumah tangga, punya mobil, punya rumah atau properti lainnya, itu berkah yang selama ini kita tahu. 

Tapi tahu kah kita bahwa berkah itu ada dalam keadaan terhimpit sekalipun, (beliau memberikan contoh) seperti yang terjadi di Palestina secara kabar begitu menderitanya saudara kita di sana, hingga dari berbagai negara termasuk Indonesia datang memberi bantuan pangan dan papan, MasyaaAllah jaminan Allah itu pasti, mereka tidak akan pernah kelaparan, Allah pun menumbuhkan buah-buahan yang segar melimpah di tengah-tengah mereka. Dikatakan  بَارَكْنَا حَوْلَهُ "telah kami berkahi sekelilingnya" berkah disekeliling Masjidil Aqsha di Palestina, walau perang terjadi tapi akibat dari perang itulah datang berkah dari ummat muslim seluruh dunia yang mencintai mereka padahal tidak pernah bertemu apa lagi kenal, inilah berkah yang Allah maksudkan dalam Q.S. Al-Isra':1.

Orang yang dapat menjadikan al-Qur'an sebagai al-furqan yang merupakan pemandu dalam menilai dan membedakan kebenaran dan kebatilan maka tentu ini bagian dari berkah yang Allah anugerahkan.
Beliau juga menjelaskan terkait doa yang masyhur dibaca orang sebelum makan, yaitu "Allahumma bārik lanā fīma razaqtanā wa qinā 'adzaban nār", ternyata hadisnya dha'if tidak dapat disandarkan bahwa Rasulullah mengajarkan doa keberkahan sebelum makan seperti itu.

Beliau menyampaikan bahwa berkah itu tidak melulu berupa materi yang lazim membuat kita senang dan bahagia, akan tetapi berkah itu adalah ketenangan hati, Allah memberi ketenangan hati seperti: tidak diberitahukan kepada manusia kapan waktu mati, kapan waktu kiamat, hal ini juga dikatakan berkah yang kita tidak harus tahu waktunya, kenapa? Jawabannya supaya kita tenang. Bayangkan jika ditaqdirkan kita mati besok dan kita tahu waktu kematian itu, bagaimana hati dan pikiran kita ketika tahu hal itu, stres memikirkan kematian sedangkan kita merasa belum siap, namun ternyata Allah tidak memberitahukannya agar tidak memberatkan hamba-NYA. Di sinilah letak berkah yang sebenarnya.

By. Bunda Hazm
Share on Google Plus